Nidaaul-haq: MANHAJ.
Headlines News :
Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label MANHAJ.. Show all posts
Showing posts with label MANHAJ.. Show all posts

Fatwa Lajnah Daimah Tentag Buku Syekh Ali Hasan Al Halaby

Written By Unknown on Friday, 29 August 2014 | Friday, August 29, 2014



Lembaga tetap dalam berfatwa dengan pimpinan Syaikh yang mulia : Abdul Aziz Alus Syaikh Hafizhahullah Ta’ala
 الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده . . وبعد :

Sesungguhnya lembaga tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa telah menelaah apa yang ditujukan kepada mufti  yang mulia dari sebagian penasehat berupa beberapa permohonan fatwa yang terkait amanah umum bagi lembaga para ulama besar,nomor : 2928,2929, tanggal : 13-5-1421 H, dan nomor : 2929 dan tanggal 13-5- 1421 H, tentang keadaan dua buah kitab yang berjudul  “Ath-Tahdzir min fitnah at-takfir” dan “Shaihatu nadziir”, penyusun dua kitab tersebut: Ali Hasan Al-Halabi, bahwasanya kedua kitab itu mengajak kepada mazhab murji’ah, yang menyatakan bahwa amalan bukan syarat sahnya iman, lalu dia menisbatkan hal itu kepada Ahlus sunnah wal jama’ah. Dia menyandarkan dalam dua kitab ini pada penukilan-penukilan dari Syaikhul islam Ibnu Taimiyah dan Al-Hafizh Ibnu Katsir dan yang lainnya -semoga Allah merahmati mereka semua-.

Karena kehendak para penasehat untuk menjelaskan kandungan yang terdapat didalam dua kitab ini agar para pembaca dapat mengetahui antara yang haq dan yang batil .dan seterusnya.

Setelah Lajnah mempelajari dua kitab tersebut, dan menelaah keduanya, maka jelaslah bagi lajnah bahwa kitab “At-tahdzir min fitnah at-takfir” tulisan Ali Hasan Al-Halabi pada apa yang dia sandarkan kepada ucapan para ulama dalam muqaddimah-nya dan catatan kakinya mengandung hal berikut:

Pertama : Penulisnya membangun kitab ini diatas mazhab murji’ah yang bid’ah lagi batil, yang membatasi kekafiran hanya pada kufur juhud (kufur pengingkaran) dan kufur takdzib (kufur karena mendustakan) dan istihlal qalbi (menghalalkan apa yang diharamkan dengan hatinya,pen), sebagaimana yang tersebut di hal:6, foot note ke:2, dan hal:22. Ini menyelisihi aqidah ahlus sunnah wal-jama’ah bahwa kekafiran bisa terjadi melalui ucapan, perbuatan, dan keragu- raguan.

Kedua : Merubah penukilan dari Ibnu Katsir rahimahullah Ta’ala dalam Al-Bidayah wan-nihayah: 13/118, dimana dia menyebutkan pada foot note-nya di halaman: 15 menukil dari Ibnu Katsir “bahwa Jengis khan mengklaim bahwa hukum “al-yasiq” berasal dari sisi Allah dan bahwa ini yang menjadi sebab kafirnya mereka (bangsa Tatar,pen)”. Tatkala merujuk ke sumber rujukan yang dimaksud tidak ditemukan apa yang dinisbatkannya kepada Ibnu Katsir –rahimahullah Ta’ala-.

Ketiga : Mengada-ada atas nama Syaikhul islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah Ta’ala- pada hal: 17- 18, dimana penyusun kitab tersebut menisbatkan kepada Beliau “bahwa hukum yang diganti tidak menunjukkan kekafiran menurut Syaikhul Islam kecuali jika disertai pengetahuan dan keyakinan hati, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang halal. Ini semata-mata mengada-ada atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah Ta’ala- sebab Beliau (syaikhul islam,pen) adalah penyebar mazhab salaf Ahlus sunnah waljama’ah dan prinsip mereka, sebagaimana yang telah disebutkan, sedangkan ini hanyalah merupakan mazhab murji’ah.

Keempat : Merubah maksud perkataan Allamah yang mulia: syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh rahimahullah Ta’ala dalam risalahnya yang berjudul “Tahkiim al-qawaaniin al-wadh’iyyah”. Dimana penyusun buku tersebut menyatakan bahwa Syaikh mensyaratkan penghalalan dalam hatinya, padahal ucapan Syaikh sangat jelas seperti jelasnya matahari dalam risalah tersebut diatas aqidah ahlus sunnah wal-jama’ah.

Kelima : Memberi komentar terhadap ucapan para ulama yang dia sebutkan dengan membawa ucapan mereka kepada sesuatu yang bukan maknanya,seperti yang terdapat di halaman: 108, foot note:1, hal:109 foot note:21, hal:110 foot note:2.

Keenam : Sebagaimana didalam kitab ini juga menampakan sikap meremehkan permasalahan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, khususnya pada halaman: 5 foot note:1, dengan alasan bahwa perhatian untuk memurnikan tauhid dalam permasalahan ini menyerupai Syi’ah Rafidhah, dan ini merupakan kesalahan fatal.

Ketujuh : Menelaah risalah yang kedua dengan judul “Shaihatu nadziir”, maka ditemukan bahwa kitab ini bersandar kepada kitab yang telah disebutkan, dan keadaan keduanya sebagaimana yang telah disebutkan.
 
Maka sesungguhnya Lajnah Daaimah melihat bahwa kedua kitab ini: tidak boleh dicetak, tidak boleh disebarkan, dan tidak boleh diedarkan disebabkan karena pada keduanya terdapat kebatilan dan perubahan makna, dan kami menasehati penulis kedua kitab tersebut untuk bertaqwa kepada Allah pada dirinya dan pada kaum muslimin, terkhusus para pemuda mereka, dan hendaknya bersungguh- sungguh dalam memperoleh ilmu syar’I melalui tangan para ulama yang dipercaya ilmunya dan baik aqidahnya. Sebab ilmu merupakan amanah dan tidak boleh disebarkan kecuali yang sesuai dengan al-kitab dan as-sunnah.

Hendaknya dia meninggalkan berbagai pemikiran ini dan cara-cara penipuan dalam merubah makna ucapan para ulama, sebagaimana yang diketahui bahwa kembali kepada kebenaran merupakan keutamaan dan kemuliaan bagi seorang muslim. Semoga Allah memberi taufik.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين .


Lajnah Daaimah untuk pembahasan ilmiah dan fatwa

Pimpinan:Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alus Syaikh
Anggota:Saleh bin Fauzan Al-Fauzan
Anggota:Bakr bin Abdillah Abu Zaid
Anggota:Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyaan


BERSIKAPLAH LEMAH LEMBUT

Written By Unknown on Monday, 7 April 2014 | Monday, April 07, 2014

Rasulullah shallallahualaihiwasallam pernah bersabda:

" Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah ia hilang dari sesuatu melainkan akan memperburuknya." (HR. Ahmad)

Jadi sikap lemah lembut itu ditunut dalam setiap keadaan, baik dalam tarbiyyah , dakwah,begitu juga dalam beramar ma'ruf nahi minkar.
Sebagian orang salah presepsi , bahwa mengingkari kemungkaran itu harus dengan sikap keras. Bolehlah jika memang pada tempatnya. Akan tetapi tidak semua kemungkaran harus kita sikapi dengan sikap keras. Melarang kemungkaran bisa pula dengan tutur kata yg baik atau dengan arahan yg santun. Terkadang Nabi Shallallahualaihiwasallam mengingkari suatu kemungkaran dg tersenyum walau sejatinya beliau tidak ridho dg kemungkaran tersebut. Sehingga para sahabat tahu , bahwa beliau tidak ridho dengan perbuatan tersebut. Oleh karenanya , sikap lemah lembut itu dituntut dalam beramar ma'ruf nahi mungkar.

Adapula sebagian orang, manakala diajak untuk berlemah lembut dalam mengingkari kemungkaran, dia justeru menyela," Sudah karakter saya memiliki sikap keras, jadi jika melihat kemungkaran otomatis saya sikapi keras ". Ketahuilah bahwa Ini bukanlah suatu kelebihan , akan tetapi ini kekurangan yang harus diperbaiki, bukan pula sesuatu yg layak dibanggakan. Ini pertanda tidak adanya taufiq yg layak kita bersedih dg keadaan seperti ini.

Lihatlah Nabi kita shallallahualaihiwasallam, saat seorang pemuda datang kepada beliau untuk meminta izin berzina , lalu Nabi shallallahualaihiwasallam katakan kepada pemuda itu ; 

 "Apakah anda ridho jika itu terjadi pada ibumu..?! apakah anda ridho jika itu terjadi pada saudari perempuanmu..?! ,"

lalu pemuda itu pun ridho dg jawban Rasulullah dan kembali ke rumahnya dalan keadaan hati yg penuh iman. Seandainya ini terjadi pada kita; datang kepada anda seorang pemuda yg ingin minta izin zina, " Wahai Fulan , izinkan saya berzina..! mungkin sebagian kita akan berkata,"gila kamu ya..minta izin kog utk zina!! ente minkir ngga sih.!!".
Namun berbeda keadaannya dg sikap Rasulullah shallahualaihiwam di atas, seorang Rasul yg amiin dan sauritauladan yg baik.

( Catatan ngaji bersama Syekh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaily hafizohullah )


El- Anshorie

4 IMAM MADZHAB MELARANG TAQLID

Written By Unknown on Wednesday, 4 July 2012 | Wednesday, July 04, 2012

Imam Abu Hanifah rahimahullah

Beliau mengatakan,

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه

“Tidak boleh bagi seorangpun berpendapat dengan pendapat kami hingga dia mengetahui dalil bagi pendapat tersebut.”

Diriwayatkan juga bahwa beliau mengatakan,

حرام على من لم يعرف دليلي أن يفتي بكلامي

“Haram bagi seorang berfatwa dengan pendapatku sedang dia tidak mengetahui dalilnya.”

 Imam Malik bin Anas rahimahullah

Beliau mengatakan,

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Aku hanyalah seorang manusia, terkadang benar dan salah. Maka, telitilah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan al-Quran dan sunnah nabi, maka ambillah. Dan jika tidak sesuai dengan keduanya, maka tinggalkanlah.”(Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih 2/32).

Beliau juga mengatakan,

ليس أحد بعد النبي صلى الله عليه وسلم إلا ويؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Setiap orang sesudah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali perkataan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Jami’ Bayan al-’Ilmi wa Fadhlih 2/91).

 Imam Asy-Syafi’i rahimahullah

Beliau mengatakan,

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت

“Apabila kalian menemukan pendapat di dalam kitabku yang berseberangan dengan sunnah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ambillah sunnah tersebut dan tinggalkan pendapatku.” (Al-Majmu’ 1/63).

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah

Beliau mengatakan,

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الثوري ولا الأوزاعي وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah kalian taklid kepadaku, jangan pula bertaklid kepada Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, tapi ikutilah dalil.”(I’lam al-Muwaqqi’in 2/201;Asy-Syamilah,).


ASAS KEBANGKITAN ISLAM

Written By Unknown on Tuesday, 26 June 2012 | Tuesday, June 26, 2012

Asas kebangkitan ummat adalah kembali kepada agama yang benar yang telah di ajarkan oleh Rosulullah yaitu kembali kepda Al quran dan sunnah, berpegang teguh kepda keduanya dan mengikuti jalan para sahabat dan menghindari perpecaha. Karna jalan kebenaran menuju kejayaan ummat hanyalah satu sebagaimana yang telah difirmankan Allah subhanahu wa ta’ala:
وأن هذا صراطي مستقيماً فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصّاكم به لعلكم تتقون
Artinya: "Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus,
maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalanjalan (yang lain) karena
jalanjalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya". (AlAn'am : 153).
Dan sungguh Rasulullah shollallhu alaihi wasallam, telah
menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari
menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah,
disusul dengan menggambar garisgaris pendek yang banyak di sisisisi garis
lurus tadi. Kemudian beliau sholallhu alai wasalam membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus
dan kemudian menunjuk garisgaris yang terdapat pada sisisisinya, beliau
bersabda:
"Ini adalah jalan Allah, sedangkan jalanjalan ini, pada setiap muara jalanjalan
tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya". (Shahih sebagaimana
terdapat di dalam "Zhilalul Jannah fi takhrij AsSunnah : 1617).
Hadits di atas dengan tegas menjelaskan bahwa jalan menuju kejayaan hanyalah satu, meskipun dewasa ini banyak kelompok kelompok yang menawarkan berbagai solusi, namun solusi siapakan yang lebih baik daripada solusi Allah dan RosulNya?.
Dihadit yang lain juga dijelaskan bahwa kehinaan ummat islam dikarnakan mereka jauh dari Al quran dan sunnah sebagaimana yang di sabdakan Rosulullah:
"Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem 'iinah (seseorang menjual
sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si
pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga
murah red), menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan
cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menjadikan kamu
dikuasai oleh kehinaan, Allah tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu
sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu". (Hadist Shahih riwayat Abu
Dawud). Dalil ini sangat tegas menyatakan bahwa kehinaan ummat ini dikarnakan mereka jauh dengan agama dan rela dengan dunia. Dan Allah akan mencabut kehinaan itu sehingga mereka kembali kepda agamanya. Oleh karna itu Imam Malik mengatakan:
"Tidaklah menjadi baik akhir umat ini, melainkan dengan apa yang telah memperbaiki dengannya generasi pertama umat ini. Maka setiap apa yang pada hari itu (zaman shahabat) tidak dikatakan sebagai agama, maka tidak pula hari ini (zaman sekarang) dikatakan sebagai agama.”

Allah akan menjajikan khilafah ketika ummat islam kembali kepda ajaran yang benar yaitu mengesakan Allah subhanahu wata’ala sebagaimana fiman Allah dalam surat an nuur:

وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya:“Dan Allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh bahwa Allah sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi (baca: mewujudkan khilafah) sebagaimana Allah telah memberikan kekuasaan kepada orang-orang sebelum kalian. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Dia ridhoi untuk mereka (Islam), dan Dia sungguh akan mengganti keadaan mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman. Mereka beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apappun.” (QS. An Nur: 55).
Dalam tafsir Al Jalain dijelaskan bahwa Allah telah mewujudkan janjiNya kepada kaum muslimin (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat) dan Allah memuji mereka dengan firmanNya di akhir ayat di atas: “Mereka beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan sesuatu apapun.” Maka ayat ini berstatus sebagai alasan kenapa Allah memberikan kekuasaan kepada mereka (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat). Ini adalah sebuah penyataan yang kita pegang bahwa tidak akan bangkit ummat ini kecuali dengan kembali kepada agama yang murni. Karna pada dasarnya para Nabi dan Rosul di utus untuk mengesakan Allah, Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ
Artinya:  “Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwa tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku. Maka sembahlah Aku!” (QS. Al Anbiya’: 25). Allah juga berfirman:
Inilah satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Agar kamu tidak menyembah selain Allah…” (QS. Hud: 1-2).
Oleh karna itu kesimpulanya adalah ketika kita kembali kepda ajaran agama yang benar maka Allah akan menghadiyah kan kepada ummat islam sebuah kemulian.
Allah berfirman yang artinya:
“Andaikan Allah menghendaki Allah akan menolong kalian dari (kejahatan) mereka (orang kafir). Namun Allah menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain..” (QS. Muhammad: 4).
Maka wajib kita awali dengan meluruskan aqidah dan mendidik generasi dengan aqidah yang benar. Generasi yang akan diuji kemudian mereka mampu bersabar atas ujian, sebagaimana bersabarnya generasi yang pertama.” (Dikutip dari kitab: Minhaj Al Firqoh An Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu).
________________________
khandar Allaitsy

TERCELANYA PERPECAHAN DAN WAJIB BERSATU DI ATAS SUNNAH

Written By Unknown on Sunday, 1 April 2012 | Sunday, April 01, 2012

Perpecahan pada kaum muslimin adalah suatu yang tercela di sisi Allah azza wa jalla, Allah telah melarang kaum muslimin  dalam banyak ayat Al qur an untuk tidak berpecah belah dan bersatu diatas kebenaran. Karna perpecahan itu melemahkan kekuatan kaum muslimin sehingga mereka di kalahkan oleh musuh musuh mereka. Dan Allah pun mengabarkan kpada Rosulullah bahwa Beliau bukan dari mereka. Allah berfirman:
 ''Sesungguhnya Orang orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan golongan, engkau (muhammad) bukan dari mereka sedikitpun. Sesumgguhnya urusan mereka kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat (Al An'am 159).
Demikianlah saudarku bahwa berpecah belah itu adalah sesuatu yang sangat tercela sehinga Allah menegaskan bahwa Rosulullah shollallahu alaihi wassalam bukan dari golongan mereka (orang orang yang brpecah belah).
         Di dalam ayat lain Allah Azza wa jalla menyebutkan bahwa berpecah belah adalah sifat dari orang orang musyrikin. Allah berfirman:
Dengan kembali bertobat kepadaNya, dan bertakwalah kepadaNya serta laksanakanlah sholat dan janganlah kamu menjadi seperti orang orang musyrik. yaitu orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar Rum; 31-32).
Inilah sifat dari orang orang musyrikin, dan Allah melarang kita (kaum muslimin) memjadi seperti mereka yaitu berpecah belah, dan berbangga bangga diri dengan golongan/ kelompoknya. Hal ini sudah terbukti di zaman kita, umat islam mereka berpecah belah menjadi kelompok kelompok, dan setiap kelompok mereka banga dengan kelompoknya tersebut. Namun kita wajib kembali pada kebenaran dan kembali mengikuti jalan dan petunjuk Rosul kita yang mulia,, karna sejak dahulu Rosulullah sudah mengabarkan kepada kita bahwa islam pada akhir zaman akan berpecah sebagaimana hadits Beliau
Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta'ala Anhu berkata :Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karenakhawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah  mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : 'Ada'. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da'i - da'i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?.Beliau bersabda: Berpegang teguhlah pada Jama'ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya: Bagaimana jika tidak ada jama'ah maupun imamnya? Beliau bersabda: Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan enggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu".(Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35.Muslim XII/135-238, Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14.Ibnu Majah no.3979, 3981.)
Dmikianlah Rosulullah pun mengabarkan kepada kita bahwa umat islam akan berpecah belah menjadi beberapa golongan, namun beliopun memberikan solusi untuk menghindari perpecahan yaitu berpegan teguh dengan sunnah belio dan mengikuti pemahaman para salaf sholih, Rosulullah bersabda:
 Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 millah (agama), sementara umatku berpecah menjadi 73 millah (agama). Semuanya di dalam neraka, kecuali satu millah." Shahabat bertanya, "Millah apa itu?" Beliau menjawab, "Yang aku berada di atasnya dan juga para shahabatku." (HR At-Tirimizi, Abu Daud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)
Dari hadits ini Rosulullah menegaskan bahwa golongan yang selamat adalah "yang aku (rosulullah) berada diatasnya dan juga para sahabat", hadits ini juga di perkuat dengn firman Allah:
 "Dan orang orang yang terdahulu lagi pertama (masuk islam) dari Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rodho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah........(At Taubah: 100).
ayat ini jelas bahwa Allah akan ridho kepada orang orang yang mengikuti para sahabat dengan baik. Adapun orang orang menentang perintah Rosulullah Shollallah alaihi wasallam dan tidak mengikuti pemahaman para sahabat, maka Allah mengncam mereka,
"Dan barang siapa menentang Rosul setelah jelas petunjuk baginya, dan mengikuti selain jalan orang orang mukmin (para sahabat), Kami biarkan dia di dalam kesesatan yang telah dilakukanya itu dan akan Kani masukan kedalam nereka jahannam (An nisa'; 115)
Wallahu a'lam

SIKAP AHLUSSUNNAH KEPADA PEMIMPIN YANG SAH

Written By Unknown on Friday, 30 March 2012 | Friday, March 30, 2012

Oleh: Khandar Allaitsy

sikap ahlussunnah terhadap pemimpin yang sah ni negri kita,,,,,
kenaikan BBM adalah sebuah masalah di negri kita yang tercinta ini, tpi bagaimana sikap kita terhadap penguasa yang dholim,,,,
ketahuilah akhul islam bahwa mencela para pemimpin di muka umum bukanlah suatu yang di benarkan dalam islam, melainkan itu adalah bencana dan musibah bagi kaum muslimin, dan itulah awal mula kehancuran umat islam, tidakkah kita ingat ketika pembunuhan utsman bin affan karna profokasi dan demontstrasi yang di pelopori abdullah bin saba' al yahud, bukankah yang pertama kali memprotes suatu kebijakan pemimpin adalah dzul khuwausiroh yang mengatakan kepada Rosulullah dengan lancang: berbuat adilah wahai muhammad sesungguhnya engkau tidak adil !!! oleh karna itu wahai ahlul islam marilah kita berfikar secara syar'i,, marilah kita menempuh jalan yang benar yang telah diajarkan oleh Rosul kita yang mulia.
Dari Iyadh bin Ghanim berkata : Bersabda Rasulullah SAW :
Barangsiapa berkeinginan menasehati sulthan (penguasa), maka janganlah melakukannya dengan terang-terangan (di depan umum) dan hendaknya dia mengambil tangannya (dengan empat mata dan tersembunyi). Jika dia mau medengar (nasehat tersebut) itulah yang dimaksud, dan jika tidak (mau mendengar), maka dia telah menunaikan kewajiban atasnya. (Hadits Shahih riwayat Ahmad, Ibnu Abi Ashim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ad-Dhilal hal. 507 no. 1096)Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu. (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52))
Kita ambil pelajaran dari hadits ini bahwa sanya Rosulullah SAW menyuruh kita untuk tetap taat kpada pemimpin selama pemimpin itu tidak memerintahkan kepadi kita untuk melkukan kemaksiatan kpada Allah, maka hendaknya wajib bagi kita untuk taat dan sebar dalam menghadapi pemimpin yang dholim, karna dengan kesabaran lah Allah akan menggantikan sesuatu yang terbaik bagi kita.
Akhul islam,,,, Nabi musa Alaihissalam dan kaumnya di selamatkan oleh Allah dari kebengisan Fir aun karna kesabaran memreka, Allah berfirman: dan telah sempurna kalimat Robmu yang baik atas bni Isroil dikarnakan kesabaran mereka,dan kami hancirkan apa yang telah di buat Fir aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun (Al a'rof 137)
Dari Anas berkata : Rasulullah SAW bersabda :
Sepeninggalku nanti kalian akan menemui atsarah (pemerintah yang tidak menunaikan haq rakyatnya-ed) maka bersabarlah sampai kalian menemuiku. (HR. Bukhari dan Muslim)
ingatlah akhi,, betapa besar pahala bagi Orang orang sabar, Allah akan memberikan solawat dan rohmat bagi mereka, dan pasti Allah tidak akan menyia nyiakan seorang hamba yang bertakwa kepada Allah azza wa jalla, marilah kita tengok sejenak sejarah bagaimana Allah menggantikan seorang pemimpin yang dholim dengan pemimpin yang adil di zaman imam Ahmad.Ketika kholifah Al ma'mun menyiksa imam Ahmad karna tidak sependapat dengan pemahaman blio, namun setelah beberapa tahun imam Ahmad pun di keluarkan dari penjara, maka bekumpulah para fuqoha kerumah iman Ahmad dan menyarankan kepada beliau untuk memberontak, namun apa kta imam Ahmad????? beliau mengatakan ''Ad dima' ad dima',,'' ( jagalah darah kaum muslimin), setelah beberapa waktu kemudian keadaan berubah menjadi 180 derajat, Allah menggantikan dengan kholifah Mutawakkul 'alallah yang adil awalnya Ahlussunnah dibantai setelah itu di bela.
Munkin inilah sedikit pelajaran untuk kaum muslimin seandainya mereka mau kebaikan,,, karna tempat kita bergantung hayalah Allah...... yang memberi rizki kita hanyalah Allah.....

Sponsor

Popular Posts

free counters

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Nidaaul-haq - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger