Nidaaul-haq: AQIDAH.
Headlines News :
Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label AQIDAH.. Show all posts
Showing posts with label AQIDAH.. Show all posts

Fatwa Lajnah Daimah Tentag Buku Syekh Ali Hasan Al Halaby

Written By Unknown on Friday, 29 August 2014 | Friday, August 29, 2014



Lembaga tetap dalam berfatwa dengan pimpinan Syaikh yang mulia : Abdul Aziz Alus Syaikh Hafizhahullah Ta’ala
 الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده . . وبعد :

Sesungguhnya lembaga tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa telah menelaah apa yang ditujukan kepada mufti  yang mulia dari sebagian penasehat berupa beberapa permohonan fatwa yang terkait amanah umum bagi lembaga para ulama besar,nomor : 2928,2929, tanggal : 13-5-1421 H, dan nomor : 2929 dan tanggal 13-5- 1421 H, tentang keadaan dua buah kitab yang berjudul  “Ath-Tahdzir min fitnah at-takfir” dan “Shaihatu nadziir”, penyusun dua kitab tersebut: Ali Hasan Al-Halabi, bahwasanya kedua kitab itu mengajak kepada mazhab murji’ah, yang menyatakan bahwa amalan bukan syarat sahnya iman, lalu dia menisbatkan hal itu kepada Ahlus sunnah wal jama’ah. Dia menyandarkan dalam dua kitab ini pada penukilan-penukilan dari Syaikhul islam Ibnu Taimiyah dan Al-Hafizh Ibnu Katsir dan yang lainnya -semoga Allah merahmati mereka semua-.

Karena kehendak para penasehat untuk menjelaskan kandungan yang terdapat didalam dua kitab ini agar para pembaca dapat mengetahui antara yang haq dan yang batil .dan seterusnya.

Setelah Lajnah mempelajari dua kitab tersebut, dan menelaah keduanya, maka jelaslah bagi lajnah bahwa kitab “At-tahdzir min fitnah at-takfir” tulisan Ali Hasan Al-Halabi pada apa yang dia sandarkan kepada ucapan para ulama dalam muqaddimah-nya dan catatan kakinya mengandung hal berikut:

Pertama : Penulisnya membangun kitab ini diatas mazhab murji’ah yang bid’ah lagi batil, yang membatasi kekafiran hanya pada kufur juhud (kufur pengingkaran) dan kufur takdzib (kufur karena mendustakan) dan istihlal qalbi (menghalalkan apa yang diharamkan dengan hatinya,pen), sebagaimana yang tersebut di hal:6, foot note ke:2, dan hal:22. Ini menyelisihi aqidah ahlus sunnah wal-jama’ah bahwa kekafiran bisa terjadi melalui ucapan, perbuatan, dan keragu- raguan.

Kedua : Merubah penukilan dari Ibnu Katsir rahimahullah Ta’ala dalam Al-Bidayah wan-nihayah: 13/118, dimana dia menyebutkan pada foot note-nya di halaman: 15 menukil dari Ibnu Katsir “bahwa Jengis khan mengklaim bahwa hukum “al-yasiq” berasal dari sisi Allah dan bahwa ini yang menjadi sebab kafirnya mereka (bangsa Tatar,pen)”. Tatkala merujuk ke sumber rujukan yang dimaksud tidak ditemukan apa yang dinisbatkannya kepada Ibnu Katsir –rahimahullah Ta’ala-.

Ketiga : Mengada-ada atas nama Syaikhul islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah Ta’ala- pada hal: 17- 18, dimana penyusun kitab tersebut menisbatkan kepada Beliau “bahwa hukum yang diganti tidak menunjukkan kekafiran menurut Syaikhul Islam kecuali jika disertai pengetahuan dan keyakinan hati, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang halal. Ini semata-mata mengada-ada atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah Ta’ala- sebab Beliau (syaikhul islam,pen) adalah penyebar mazhab salaf Ahlus sunnah waljama’ah dan prinsip mereka, sebagaimana yang telah disebutkan, sedangkan ini hanyalah merupakan mazhab murji’ah.

Keempat : Merubah maksud perkataan Allamah yang mulia: syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh rahimahullah Ta’ala dalam risalahnya yang berjudul “Tahkiim al-qawaaniin al-wadh’iyyah”. Dimana penyusun buku tersebut menyatakan bahwa Syaikh mensyaratkan penghalalan dalam hatinya, padahal ucapan Syaikh sangat jelas seperti jelasnya matahari dalam risalah tersebut diatas aqidah ahlus sunnah wal-jama’ah.

Kelima : Memberi komentar terhadap ucapan para ulama yang dia sebutkan dengan membawa ucapan mereka kepada sesuatu yang bukan maknanya,seperti yang terdapat di halaman: 108, foot note:1, hal:109 foot note:21, hal:110 foot note:2.

Keenam : Sebagaimana didalam kitab ini juga menampakan sikap meremehkan permasalahan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, khususnya pada halaman: 5 foot note:1, dengan alasan bahwa perhatian untuk memurnikan tauhid dalam permasalahan ini menyerupai Syi’ah Rafidhah, dan ini merupakan kesalahan fatal.

Ketujuh : Menelaah risalah yang kedua dengan judul “Shaihatu nadziir”, maka ditemukan bahwa kitab ini bersandar kepada kitab yang telah disebutkan, dan keadaan keduanya sebagaimana yang telah disebutkan.
 
Maka sesungguhnya Lajnah Daaimah melihat bahwa kedua kitab ini: tidak boleh dicetak, tidak boleh disebarkan, dan tidak boleh diedarkan disebabkan karena pada keduanya terdapat kebatilan dan perubahan makna, dan kami menasehati penulis kedua kitab tersebut untuk bertaqwa kepada Allah pada dirinya dan pada kaum muslimin, terkhusus para pemuda mereka, dan hendaknya bersungguh- sungguh dalam memperoleh ilmu syar’I melalui tangan para ulama yang dipercaya ilmunya dan baik aqidahnya. Sebab ilmu merupakan amanah dan tidak boleh disebarkan kecuali yang sesuai dengan al-kitab dan as-sunnah.

Hendaknya dia meninggalkan berbagai pemikiran ini dan cara-cara penipuan dalam merubah makna ucapan para ulama, sebagaimana yang diketahui bahwa kembali kepada kebenaran merupakan keutamaan dan kemuliaan bagi seorang muslim. Semoga Allah memberi taufik.

وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين .


Lajnah Daaimah untuk pembahasan ilmiah dan fatwa

Pimpinan:Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alus Syaikh
Anggota:Saleh bin Fauzan Al-Fauzan
Anggota:Bakr bin Abdillah Abu Zaid
Anggota:Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyaan


Fatwa Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Mengenai Isis

Written By Unknown on Saturday, 23 August 2014 | Saturday, August 23, 2014

Oleh: Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad

Ulama Besar Arab Saudi, Ahli Hadits Kota Suci Madinah, Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr hafizhahullah berkata dalam risalah “Fitnatul Khilafah Ad-Da’isyiah Al-‘Iraqiyah Al-Maz’umah” di website resmi beliau,
Seruan Ulama Besar Ahlus Sunnah Terkait ISIS
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وحده وصلى الله وسلم على من لا نبي بعده نبينا محمد وعلى آله وصحبه. أما بعد؛
Sungguh telah lahir di Iraq beberapa tahun yang lalu, sebuah kelompok yang menamakan diri Daulah (Negara) Islam Iraq dan Syam, dan dikenal dengan empat huruf awal nama daulah khayalan tersebut yaitu [داعش] (ISIS), dan muncul bersamaan dengan itu, sebagaimana yang disebutkan oleh sebagian orang yang mengamati tingkah pola dan pergerakan mereka, sejumlah nama sebagai julukan bagi anggota mereka dengan sebutan: Abu Fulan Al-Fulani atau Abu Fulan bin Fulan, kuniah (julukan) yang disertai penisbatan kepada negeri atau kabilah, inilah kebiasaan orang-orang majhul (yang tidak dikenal), bersembunyi di balik julukan dan penisbatan.
Selang beberapa waktu terjadi peperangan di Suriah antara pemerintah[1] dan para penentangnya, masuklah sekelompok orang dari ISIS ini ke Suriah, bukan untuk memerangi pemerintah, akan tetapi memerangi Ahlus Sunnah yang menentang pemerintah dan membunuh Ahlus Sunnah dengan cara yang sangat kejam, dan telah masyhur cara membunuh mereka terhadap orang yang ingin mereka bunuh, dengan menggunakan pisau-pisau yang merupakan cara terjelek dan tersadis dalam membunuh manusia.
Dan di awal bulan Ramadhan tahun ini (1435 H) mereka merubah nama kelompok mereka menjadi “Al-Khilafah Al-Islamiyah”. Khalifahnya yang dinamakan Abu Bakr Al-Baghdadi berkhutbah di sebuah masjid di Mosul, diantara yang ia katakan dalam khutbahnya, “Sungguh aku telah dijadikan pemimpin kalian padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Sungguh dia telah berkata benar bahwa ia bukanlah yang terbaik di antara mereka, karena ia telah membunuh orang yang mereka bunuh dengan pisau-pisau, apabila pembunuhan itu atas dasar perintahnya, atau ia mengetahuinya dan membolehkannya maka ia adalah yang terburuk di antara mereka (memang bukan yang terbaik), berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” [HR. Muslim no. 6804 dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Dan kalimat yang ia katakan dalam khutbahnya tersebut, telah dikatakan oleh khalifah pertama dalam Islam setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu wa ardhaahu, dan beliau adalah orang terbaik umat ini, sedang umat ini adalah umat yang terbaik di antara umat-umat yang ada, beliau mengatakan demikian dalam rangka tawadhu’ (bersikap rendah hati) sedang beliau mengetahui, para sahabat juga mengetahui bahwa beliau adalah orang yang terbaik di antara mereka berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkannya dari ucapan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
Termasuk kebaikan (yang kami nasihatkan) untuk kelompok ini, hendaklah mereka sadar diri dan kembali kepada kebenaran, sebelum daulah mereka hilang terbawa angin seperti daulah-daulah lain yang semisalnya di berbagai masa.
Dan sangat disayangkan, fitnah (bencana) khilafah khayalan yang lahir beberapa waktu yang lalu ini, diterima oleh anak-anak muda yang bodoh di negeri Al-Haramain, mereka menampakkan kebahagiaan dan kegembiraan terhadap khilafah khayalan ini layaknya kebahagiaan orang yang haus terhadap minuman, dan diantara mereka ada yang berkhayal telah membai’at khalifah majhul ini! Bagaimana mungkin diharapkan kebaikan dari orang-orang yang tersesat dengan ajaran takfir (pengkafiran terhadap kaum muslimin) dan pembunuhan dengan cara yang paling kejam dan sadis…?!
Wajib atas para pemuda tersebut untuk melepaskan diri dari ikut-ikutan di belakang para provokator, dan hendaklah dalam setiap tindakan mereka kembali kepada dalil yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan dari Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, karena padanya ada keterjagaan, keselamatan dan kesuksesan di dunia dan akhirat. Dan hendaklah mereka kembali merujuk kepada para ulama yang menasihati mereka dan menasihati kaum muslimin.
Diantara contoh keselamatan dari pemikiran sesat karena merujuk kepada ulama, adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih beliau (no. 191) dari Yazid Al-Faqir, ia berkata,
كُنْتُ قَدْ شَغَفَنِى رَأْىٌ مِنْ رَأْىِ الْخَوَارِجِ فَخَرَجْنَا فِى عِصَابَةٍ ذَوِى عَدَدٍ نُرِيدُ أَنْ نَحُجَّ ثُمَّ نَخْرُجَ عَلَى النَّاسِ – قَالَ – فَمَرَرْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ فَإِذَا جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ – جَالِسٌ إِلَى سَارِيَةٍ – عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ فَإِذَا هُوَ قَدْ ذَكَرَ الْجَهَنَّمِيِّينَ – قَالَ – فَقُلْتُ لَهُ يَا صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ مَا هَذَا الَّذِى تُحَدِّثُونَ وَاللَّهُ يَقُولُ (إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ) وَ (كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا) فَمَا هَذَا الَّذِى تَقُولُونَ قَالَ فَقَالَ أَتَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ فَهَلْ سَمِعْتَ بِمَقَامِ مُحَمَّدٍ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَعْنِى الَّذِى يَبْعَثُهُ اللَّهُ فِيهِ قُلْتُ نَعَمْ. قَالَ فَإِنَّهُ مَقَامُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- الْمَحْمُودُ الَّذِى يُخْرِجُ اللَّهُ بِهِ مَنْ يُخْرِجُ. – قَالَ – ثُمَّ نَعَتَ وَضْعَ الصِّرَاطِ وَمَرَّ النَّاسِ عَلَيْهِ – قَالَ – وَأَخَافُ أَنْ لاَ أَكُونَ أَحْفَظُ ذَاكَ – قَالَ – غَيْرَ أَنَّهُ قَدْ زَعَمَ أَنَّ قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنَ النَّارِ بَعْدَ أَنْ يَكُونُوا فِيهَا – قَالَ – يَعْنِى فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمْ عِيدَانُ السَّمَاسِمِ. قَالَ فَيَدْخُلُونَ نَهْرًا مِنْ أَنْهَارِ الْجَنَّةِ فَيَغْتَسِلُونَ فِيهِ فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ الْقَرَاطِيسُ. فَرَجَعْنَا قُلْنَا وَيْحَكُمْ أَتُرَوْنَ الشَّيْخَ يَكْذِبُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَرَجَعْنَا فَلاَ وَاللَّهِ مَا خَرَجَ مِنَّا غَيْرُ رَجُلٍ وَاحِدٍ أَوْ كَمَا قَالَ أَبُو نُعَيْمٍ
“Aku pernah terpengaruh oleh satu pemikiran Khawarij, maka kami beberapa orang pergi untuk berhaji, kemudian kami ingin memberontak, kami pun melewati kota Madinah, ternyata ada sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma sedang duduk di sebuah sudut, beliau sedang menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika itu beliau telah menyebutkan tentang al-jahannamiun (orang-orang yang dibebaskan dari neraka setelah diazab, lalu dimasukkan ke surga). Maka aku berkata kepadanya: Wahai sahabat Rasulullah, mengapa engkau menyampaikan ini padahal Allah telah berfirman,
إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ
“Sesungguhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia.” (Ali Imron: 192)
Dan firman Allah ta’ala,
كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا أُعِيدُوا فِيهَا
“Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya.” (As-Sajadah: 20)
Maka apa yang bisa engkau katakan?
Beliau berkata: Apakah kamu membaca Al-Qur’an?
Aku berkata: Ya.
Beliau berkata: Apakah kamu pernah mendengar ayat tentang kedudukan (syafa’at) Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang akan Allah bangkitkan beliau dalam kedudukan ini?
Aku berkata: Ya.
Beliau berkata: Sesungguhnya itu kedudukan (syafa’at) Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam yang terpuji, yang dengan itu Allah mengeluarkan sebagian orang dari neraka.
Kemudian beliau menyebutkan tentang peletakan jembatan (shiroth) dan lewatnya manusia di atasnya –aku khawatir menyampaikannya karena aku tidak menghapalnya dengan baik, yang pasti beliau menyebutkan tentang satu kaum yang keluar dari neraka setelah mereka diazab di dalamnya, mereka keluar dalam bentuk seperti biji wijen yang terbakar sinar matahari- Beliau berkata: Mereka lalu masuk ke salah satu sungai di surga, mereka mandi padanya, lalu mereka keluar dalam bentuk seperti kertas-kertas putih.
Kami pun kembali, lalu kami berkata kepada rombongan kami, celaka kalian apakah kalian menganggap Asy-Syaikh (Jabir bin Abdullah) berdusta atas nama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (beliau tidak mungkin berdusta)?! Maka kami pun kembali, demi Allah (setelah itu) tidak ada seorang pun dari kami yang keluar (mengikuti Khawarij) kecuali satu orang –atau seperti yang dikatakan oleh Abu Nu’aim-.” [HR. Muslim]
Abu Nu’aim adalah Al-Fadhl bin Dukain, beliau adalah salah seorang perawi hadits ini. Dan hadits ini menunjukkan bahwa kelompok ini telah tertipu dengan pemikiran Khawarij dalam mengkafirkan pelaku dosa besar dan meyakini kekalnya di neraka, dan dengan pertemuan bersama sahabat Jabir radhiyallahu’anhu dan penjelasan beliau, maka mereka kemudian mengikuti bimbingan beliau, meninggalkan kebatilan yang mereka pahami dan tidak jadi memberontak yang sudah mereka rencanakan akan dilakukan setelah melaksanakan haji, maka ini adalah faidah terbesar yang akan didapatkan oleh seorang muslim apabila ia merujuk kepada ulama.
Dan yang menunjukkan bahaya ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama dan menyimpang dari kebenaran serta menyelisihi pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, dari hadits Hudzaifah radhiyallahu’anhu,
إنَّ أخوفَ ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن، حتى إذا رُئيت بهجته عليه وكان ردءاً للإسلام، انسلخ منه ونبذه وراء ظهره، وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك، قلت: يا نبيَّ الله! أيُّهما أولى بالشرك: الرامي أو المرمي؟ قال: بل الرامي
“Sesungguhnya yang aku takuti menimpa kalian, adanya orang yang membaca Al-Qur’an, sampai apabila telah terlihat sinarnya dalam dirinya dan menjadi benteng bagi Islam, maka ia pun berlepas diri darinya dan membuangnya di belakang punggungnya, lalu ia memerangi tetangganya dengan pedang dan ia menuduh tetangganya itu telah melakukan syirik. Aku (Hudzaifah) berkata: Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih pantas dihukumi syirik, apakah yang menuduh atau yang tertuduh? Beliau bersabda: Bahkan yang menuduh.” [Diriwayatkan Al-Bukhari dalam At-Tarikh, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan Al-Bazzar, lihat Ash-Shahihah karya Al-Albani no. 3201]
Anak muda, umumnya buruk pemahaman, yang menunjukkan hal itu adalah sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih beliau (no. 4495) dengan sanadnya kepada Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya, bahwa beliau berkata,
قلت لعائشة زوج النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم وأنا يومئذ حديث السنِّ: أرأيتِ قول الله تبارك وتعالى: إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا، فما أرى على أحد شيئاً أن لا يطوَّف بهما، فقالت عائشة: كلاَّ! لو كانت كما تقول كانت: فلا جناح عليه أن لا يطوَّف بهما، إنَّما أنزلت هذه الآية في الأنصار، كانوا يُهلُّون لِمناة، وكانت مناة حذو قديد، وكانوا يتحرَّجون أن يطوَّفوا بين الصفا والمروة، فلمَّا جاء الإسلام سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك، فأنزل الله إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا
“Aku berkata kepada Aisyah istri Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dan aku ketika itu masih berumur muda: Apa pendapatmu tentang firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke kakbah atau umroh, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf (sa’i) pada keduanya.” Maka aku berpendapat bahwa tidak ada dosa atas seorang pun yang tidak melakukan sa’i antara Shofa dan Marwah?
Aisyah berkata: Tidak, andaikan seperti yang engkau katakan maka ayatnya akan berbunyi, “Maka tidak ada dosa baginya untuk ‘tidak’ thawaf (sa’i) pada keduanya”. Hanyalah ayat ini turun ada sebabnya, yaitu tentang kaum Anshor, dulu mereka berihram untuk Manat, dan Manat terletak di Qudaid, dahulu mereka merasa berdosa untuk melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah, maka ketika datang Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang itu, lalu Allah menurunkan (firman-Nya), “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah termasuk syi’ar-syi’ar Allah, maka barangsiapa yang melakukan haji ke kakbah atau umroh, maka tidak ada dosa baginya untuk thawaf (sa’i) pada keduanya”.” [HR. Al-Bukhari]
Khawarij Menghapal Al-Qur’an Namun Tidak Memahaminya Seperti Pemahaman Salaf
Padahal ‘Urwah bin Az-Zubair termasuk sebaik-baik tabi’in, salah seorang dari 7 Fuqoha Madinah di masa tabi’in, beliau telah menyiapkan ‘udzurnya pada kesalahan beliau dalam memahami, yaitu keadaan beliau yang masih berumur muda ketika bertanya kepada Aisyah, maka jelaslah anak muda umumnya jelek pemahaman, dan bahwa kembali kepada ulama adalah kebaikan dan keselamatan.
Dan dalam Shahih Al-Bukhari (no. 7152) dari Jundab bin Abdullah radhiyallahu’anhu, ia berkata,
إنَّ أوَّل ما ينتن من الإنسان بطنُه، فمَن استطاع أن لا يأكل إلاَّ طيِّباً فليفعل، ومَن استطاع أن لا يُحال بينه وبين الجنَّة بملء كفٍّ من دم هراقه فليفعل
“Sesungguhnya bagian tubuh manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya, maka siapa yang mampu untuk tidak makan kecuali yang baik hendaklah ia lakukan, siapa yang mampu untuk tidak dihalangi antara dirinya dan surga dengan sepenuh genggaman darah yang ia tumpahkan hendaklah ia lakukan.” [HR. Al-Bukhari]
Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath (13/130),
ووقع مرفوعاً عند الطبراني أيضاً من طريق إسماعيل بن مسلم، عن الحسن، عن جندب، ولفظه: (تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه)، وهذا لو لم يرِد مصرَّحاً برفعه لكان في حكم المرفوع؛ لأنَّه لا يُقال بالرأي، وهو وعيد شديد لقتل المسلم بغير حقٍّ
“Hadits ini secara marfu’ terdapat dalam riwayat Ath-Thabrani juga dari jalan Ismail bin Muslim, dari Al-Hasan, dari Jundab dengan lafaz: Kalian mengetahui bahwa aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
تعلمون أنِّي سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: لا يحولنَّ بين أحدكم وبين الجنَّة وهو يراها ملءُ كفِّ دم من مسلم أهراقه بغير حلِّه
“Janganlah terhalangi antara seorang dari kalian dan surga dengan sepenuh genggaman darah seorang muslim yang ia tumpahkan tanpa alasan yang benar, padahal ia sudah melihat surga.”
Lafaz ini tidak secara tegas sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam (marfu’) akan tetapi ia dihukumi marfu’ karena tidak mungkin dikatakan berdasarkan pendapat (mesti berdasarkan wahyu), sebab di dalamnya ada ancaman yang keras terhadap dosa membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar (ini tidak mungkin dari pendapat Jundab, mestilah beliau pernah mendengarkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).”
Dan hadits-hadits serta atsar-atsar ini sebagiannya telah aku sebutkan dalam risalah,
بأي عقل ودين يكون التفجير والتدمير جهادا؟! ويحكم أفيقوا يا شباب
“Dengan akal dan agama apakah hingga pengeboman dan penghancuran dianggap jihad?! Kasihan kalian, sadarlah wahai para pemuda”
Dalam risalah ini terdapat beberapa ayat, hadits dan atsar yang banyak tentang haramnya bunuh diri dan membunuh orang lain tanpa hak. Risalah ini telah dicetak secara terpisah pada tahun 1424 H, dan dicetak pada tahun 1428 H bersama risalah lain yang berjudul,
بذل النصح والتذكير لبقايا المفتونين بالتكفير والتفجير
“Mengerahkan nasihat dan peringatan untuk sisa-sisa orang yang tertipu dengan pengkafiran dan pengeboman” termasuk dalam kumpulan kitab-kitab dan risalah-risalahku juz ke 6 hal. 225-279.
Dan untuk para pemuda yang telah ikut-ikutan di belakang penyeru kelompok (ISIS) ini, hendaklah mereka mengoreksi diri, kembali kepada kebenaran dan jangan berfikir untuk bergabung dengan mereka, yang akan menyebabkan kalian keluar dari kehidupan dengan bom bunuh diri yang mereka pakaikan atau disembelih dengan pisau-pisau yang telah menjadi ciri khas kelompok ini, dan (kepada para pemuda Arab Saudi) hendaklah mereka tetap konsisten dalam mendengar dan taat kepada pemerintah Arab Saudi yang mereka hidup di bawah kekuasaannya, demikian pula bapak-bapak dan kakek-kakek mereka hidup di negeri ini dalam keadaan aman dan damai. Negeri ini, dengan kebenaran (aku berkata) adalah sebaik-baiknya negeri di dunia ini, meskipun masih terdapat banyak kekurangan, diantara sebab kekurangan tersebut adalah bencana para pengikut Barat di negeri ini yang latah terhadap Barat, ikut-ikutan dalam perkara yang bermudarat.
Aku memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memperbaiki kondisi kaum muslimin di setiap tempat, memberi hidayah kepada para pemuda kaum muslimin baik laki-laki maupun wanita kepada setiap kebaikan, menjaga negeri Al-Haramain baik pemerintah maupun masyarakat dari setiap kejelekan, memberi taufiq kepada setiap kebaikan dan melindungi dari kejelekan orang-orang yang jelek dan makar orang-orang yang buruk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه
FansPage Website: Sofyan Chalid bin Idham Ruray [www.fb.com/sofyanruray.info]
[1] Pemerintah Syi’ah Suriah saat ini beraqidah kufur dan syirik, membantai rakyatnya sendiri, Ahlus Sunnah Suriah (Pen).
DICOPY dari http://sofyanruray.info/seruan-ulama-besar-arab-saudi-terkait-isis/

PESTA TASYAKURAN (PERAYAAN) SYIAH ATAS “Kebinasaan Ibunda Kaum Mukminin Aisyah rodiallohu ‘anha dalam Api Neraka”!!

Written By Unknown on Thursday, 17 April 2014 | Thursday, April 17, 2014

((Catatan ini saya ambil dari sebuah Majalah islami " Qiblati".Saat aku membaca makalah ini,sungguh terenyuh sekali,,melihat Ibunda kita( kaum mukminin) di hina oleh org rowaafidh,bahkan sampai mengkafirkan dan mengkultuskan bahwa Ibunda Aisyah -radiyallahhu'anha- saat in berada di neraka  wal'iyadzubillah. Bagaimanakah perasan Anda dengan kelakuan orang Syi'ah itu.?Betapa jahatnya mereka.Aku yakin kalian memilik kecemburuan tinggi terhadap Ibunda kita 'Aisyah -radhiyallahhu'anha-.Agar kita mengetahui tabir yang selama itu tertutup di mata kita, yang mana kita tertipu dengan doktrin mereka yang mengaku pecinta Ahlu bait,silahkan baca makalah di bawa ini. Semoga Allah menunujukan kita kepada jalanNYa yang lurus dan dirdhoi.Jalannya Rasulullah-shollahhu'alaihiwasallam-dan para Sahabatnya-radhiyallahu'anhum- beserta pengikut-pengikutnya yang senantiasa istiqomah di jalannya.

     Pada tanggal 17 Ramadhan 1431 H yang lalu, di saat kaum muslimin di seluruh penjuru dunia menyibukkan diri untuk beribadah di bulan Ramadhan yang mulia, guna mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ibadah dan ketaatan yang paling dicintai seperti shalat dan puasa, umat Islam dikejutkan dengan adanya perayaan besar yang dilakukan oleh masyarakat Syi’ah Dua Belas Imam di London, Inggris. Acara keji itu dipimpin oleh sejumlah ulama Syi’ah dari berbagai negeri Arab dan non-Arab yang dikepalai oleh Yasir al-Habib. Perayaan itu dilakukan untuk memperingati “kebinasaan” ‘Aisyah di dalam api neraka –wal’iyadzu billah-. Untuk pertama kalinya Syi’ah berani secara terang-terangan melakukan perbuatan nista tersebut. Dahulu mereka melakukan taqiyah yang itu merupakah aqidah suci dalam agama mereka.
    Perayaan tersebut berupa penyampaian pidato dan pembacaan sya’ir-sya’ir dalam mengkafirkan, serta melaknat ibunda kaum mukminin ‘Aisyah rodiallohu ‘anha. Adalah Yasir al-Habib menyampaikan sambutannya di tengah kehadiran banyak orang yang mayoritas mereka mengenakan pita merah, dan sebagian mereka dengan baju merah sebagai kiasan bahwa Ibunda ‘Aisyah rodiallohu ‘anha berada dalam neraka Jahannam. Kemudian Yasir al-Habib mulai menyampaikan sambutannya dengan menegaskan bahwa ‘Aisyah adalah musuh Allah dan Rasul-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dia menyatakan bahwa sulit baginya untuk menghitung kejahatan-kejahatan ibunda ‘Aisyah rodiallohu ‘anha terhadap hak Islam dan kaum muslimin. Yang paling keji dari kejahatan-kejahatan tersebut adalah bahwa dia telah membunuh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan racun, turut serta dalam melawan ‘Ali bin Abi Thalib rodiallohu ‘anhu, memberontak dan memeranginya, menyakiti penghulu wanita dunia, Fathimah rodiallohu ‘anha hingga membuatnya menangis, serta kegembiraannya dengan syahidnya Fathimah, dan Amirul Mukminin ‘Ali rodiallohu ‘anhu; melempari jenazah al-Hasan rodiallohu ‘anhu dengan busur-busur panah, penyebab terbunuhnya tiga puluh ribu kaum muslimin, mengotori sirah Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan hadits-hadits palsunya, tuduhan kejinya terhadap Mariah al-Qibthiyyah. Selain itu mereka (orang-orang yang beragama syiah itu) menuduh ‘Aisyah rodiallohu ‘anha sebagai orang yang kurang adab, dan berlisan kotor, dan termasuk orang-orang nista lagi fasiq.
Kemudian setelah berbagai tuduhan kotor tersebut, orang hina (Yasir yang zindiq) ini menegaskan dan menetapkan bahwa ‘Aisyah sekarang berada dalam api neraka, bahkan tidak hanya sekedar dalam neraka, bahkan dia bersumpah atas nama Allah, bahwa ‘Aisyah sekarang berada dalam dasar neraka Jahannam, dalam keadaan tergantung kedua kakinya, memakan bangkai, dan tubuhnya sendiri. Semua itu menurutrnya berdasarkan kandungan al-Qur`an dan sunnah. Mudah-mudahan laknat Allah dan seluruh manusia atasnya.
Pada penutupan sambutannya, dia mengajak kepada kaum muslimin untuk shalat dua rakaat sebagai bentuk syukur kepada Allah atas “binasanya” ummul mukminin –yang dia sebut ummul mujrimin/ ibunda para penjahat- , serta pindahnya dia kepada adzab pedih lagi kekal di dalam neraka jahannam. Dia juga mengajak kaum mukminin, setelah shalat tersebut, untuk meminta segala kebutuhan mereka kepada Allah, dan segala kebutuhan tersebut akan dipenuhi dengan kelembutan Allah subhanahu wa ta’ala, dan syafa’at Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, serta ahlul bait beliau yang suci ‘alaihimusshalatu wassalam.
Selain itu pembaca yang beriman, pada acara itu telah digantungkan sebuah spanduk besar bertuliskan “Binasanya ‘Aisyah di Dalam Neraka”, dan pada sisi yang berhadapan dengannya digantungkan spanduk bertuliskan “Kebahagiaan al-Husain ‘alaihi salam”, dimana kedua sepanduk tersebut, dengan segala kekejian, dinaikkan untuk menyampaikan ucapan kotornya terhadap Ibunda kita ‘Aisyah –mudah-mudahan Allah meridhainya dan membuatnya ridha.
Perayaan tersebut telah disiarkan secara live oleh sebagian siaran Syi’ah dengan penuh suka cita dan bahagia dengan adanya perayaan besar tersebut. Di sela-sela perayaan jahat itu, disamping melaknat Ummul Mukminin, ditambahkan pula melaknat Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat besar lainnya –mudahan-mudahan Allah meridhai mereka semua.
    Sungguh, sebelumnya kami mengira bahwa pada tanggal 17 Ramadhan tersebut mereka merayakan kemenangan kaum muslimin atas orang-orang musyrik dalam peperangan Badar, akan tetapi kami dikejutkan bahwa orang-orang musyrik dan orang-orang kafir telah selamat dari lisan-lisan mereka, karena dialihkan untuk melaknat wanita suci, lagi disucikan dari langit ketujuh. Dimana Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan tentangnya sepuluh ayat dalam surat an-Nur (24) yang menjelaskan sucinya ‘Aisyah dari tuduhan orang-orang munafik. Kemudian datanglaah orang-orang zindiq itu dengan mengatasnamakan cinta kepada ahlul bait, menuduh kehormatan ummul mukminin ‘Aisyah rodiallohu ‘anha yang suci, dan menyakiti Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam melalui pelecehan mereka terhadap istri yang paling beliau cintai. Mereka dengan lantangnya mengatakan bahwa Istri Nabi yang tercinta itu telah kafir, dan murtad, serta berada dalam dasar neraka Jahannam!!
Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (٥٧)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. Al-Ahzab (33): 57)
     Wahai bangsa Indonesia,,,wahai bangsa Malaysia,,, wahai umat Islam, istri kekasih kalian, al-Mushthafa Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam telah dihinakan sementara kalian semua diam??!!!
    Sesungguhnya, saya mengatakannya dengan jujur kepada seluruh ulama dan awamnya kaum muslimin, jika kita tidak melakukan sesuatu maka sesungguhnya kita telah ikut serta dalam kejahatan tersebut. Maka wajib bagi kita memiliki peran dalam membela Ibunda kita, kekasih Nabi kita shollallohu ‘alaihi wa sallam. Masing-masing sesuai dengan kemampuan, kedudukan dan jabatannya. Hendaknya semua tahu bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala,dan kita akan dihisab akan keteledoran kita, atau karena kita mendahulukan kemaslahatan duniawi dari pada kehormatan Nabi Kita Muhammad Shallahu'alaihi wasallam.Maka celakalah bagi setiap orang yg merehkan hukuman dan kemurkaan Allah.Secara khusus, hendaknya para ulama berhati2. Maka apakah yg akan kita jawab kepada kekasih kita, penghulu kita"Shollahhu'alaihi wasallam saat Beliau nanti bertanya kepada kita pada hari Kiyamat, apa yg telah kalian lakukan utk membela kehormatanku...?!
    Maka jawaban apakah kiranya yg telah kita siapkan untuk menjawab pertanyaan tersebut..?? Wahai stp penanggung jawab, saya tahu bahwa Anda semua akn ditanya di hadapan Allah, tentang sebaik-baik makhlik-Nya setelah para anbiya' ? Siapakah yg memiliki keutamaan (jasa) kpd kita setelah Allah dan Rasul-Nya, yg karenanya sekarang ini kita menjadi kaum Muslimin, dan bagi kita Sorga dengan izin Allah jika amal kita baik...?! Bukankah para Sahabat dan Ummahatulmukminin yg telah menjaga Islam serta menyampaikannya kepada org setelah mereka hingga sampai kepd kita ini...?! Seandainya bukan karena (sebab) mereka niscaya kita tidak akan mendapatkam petunjuk, dan tidak akan sholat, kita akan menjadi para penyembah berhala, api, pohon, dan sapi...!  Maka apakah seperti ini kita membalas budi dan jasa mereka...?!

    Sesungguhnya saya mendorong perhatian Anda utk bangkit dalam rangka membela kehormatan Nabi dan kekasih Anda Muhammad "Shollahualaihi wasallam". Bangsa Arab telah bangkit, melakukan satu bagian dari kewajiban mereka terhadap  tragedi ini. Sekarng kami ingin Anda menyempurnakan kewajiban tersebut dan melakukan peran Anda.Anda semua  tidaklah  lebih kecil kecemburuan atau kecintaannya kpd Nabi "Shollahu'alaihiwasallam" dan Ummahatulmukminin, dari bangsa Arab dan selain mereka.

    Majalah Qiblati telah ikut menyampaikan gugatan di Inggris, dengan bergabung bersama sejumlah lembaga ilmiah, dan siaran2 satelit, dan dengan keikut sertaan sejumlah besar tokoh melawan org Kafir yang bernama Yasir al-Habib -la'natullah 'alaihi- tersebut.  Pemerintah Kuwait telah menuntut mengekstradiksinya melalui Interpol, akn tetapi Interpol Inggris menolaknya. Oleh karenanya, sudah semestinya bagi kita  utk menambah jumlah para penuntut utk mengadilinya atau mengekstradiksinya agar org2 kafir jahat itu tahu diri, dan tidak lagi berani lancang thdp Ummahatulmukminin yg mereka itu tidak sebanding dengan debu yang diinjak oleh orang-orang terbaik tersebut-radhiaAllahhu'anhum-.
    Oleh karena itulah, kami majalah Qiblati memutuskan membuat sebuah kampanye dg nama " Kampanye Pembelaan Terhadap Ummul Mukminin ''Aisyah" Radiallahhuanha.  Guna mendukung, dan ikut serta salam kampanye ini, kami meminta kpd setiap orang yg cemburu, dari berbagai Jam'iyyah, lembaga2, forum2,  majlis2 ilmu ,serta masing2 individu utk mendukung kampanye ini bg ikut serta di dalamnya dengan mengirim SMS ke nomor  08-1945-575-999 dan menulis di dalamnya nama, no HP jka ada nomor lain, kemudian menulis  " Saya setuju menggugat kasus ini ke Pengadilan) ". Demikian pula bisa ikut serta dg mengirim email ke dukungan@qiblati.com .Setelah itu, kami akan menyertakan nama seluruh pendukung kampanye dalam daftar para penggugat di  Inggris. Sesungguhnya saya sangat Optimis dengan kebaikan penduduk Indonesia ,(Malaisyia) -maupun yg lainnya- dalam membela kehormatan Ibunda kita dan Nabi kita -Shollahhu'alihiwasallam-...Bapak dan Ibu saya sebagai tebusannya.
    Kami memohon agar semua pihak ikut andil dalam menyebarkan kampanye ini melalui email (fb,twiter dll) serta mendorong  manusia utk ikut  serta di dalamnya. Siapa saja bisa mengcopy makalah ini dari website Qiblati utk kemudian menyebarkannyaa di antara manusia di setiap tempat. Dan wajib ada sati jejak bagi kita dalam membela Ibunda kita. Demi Allah , seandainya ada seseorang yg berbicara tentang kehormatan Ibunda kita sendiri, niscaya kita tdk akan diam, lalu bagaimana dengan Ibunda Kaum mukminin "Aisyah -radiyallahhu'amha-...??!yg lebih baik dari Ibu kita semua?!

                      Wahai bunda, janganlah bersedih....!
                      Engkau adalah kehormatan kami
                      Kehormatan Nabi kami...
                      Janganlah bersedih...!
                      Kami, Umat Islam ; anak-anakmu
                      Siap berkorban membelamu

     Agar saya bisa memotong jalan atas sebagian org2 Syiah yang akan mengingkari perbuatan tersebut sebagai taqiyah (kepura-puraan) dan kedustaan, maka sesungguhnya saya mengatakan dg jujur bahwa setiap syiah berkeyakinan akan kekafiran Aisyah, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan para Sahabat yang lain. Dikarenakan seluruh kitab induk mereka terang-terangan dalam masalah ini. Maka asas dan ushul agama mereka berdiri diatas pengkafiran para Sahabat Nabi -shollallahu'alaihiwasallam- ,sekalipun mereka tidak terang-terangan mengatakannya sebagai taqiyah.
      Agar saya bisa menetapkan kejujuran ucapan saya , saya menantang setiap yayasan resmi syiah di Indonesia atau yg lain di dunia untuk mengeluarkan suatu penjelasan yg didalamnya diterangkan bahwa Ummulmukminin Aisyah -radiyallahhu'anha- adalah ibu mereka, dan bahwa beliau adalah wanita mukminah penghuni surga. Sesungguhnya saya, dg ucapan ini ingin menelanjangi aqidah suatu kaum yg berdiri di atas kedustaan dan penipuan. Saya ingin menjelaskan kpd org2 yg terperdaya dari para penyeru kepada toleransi yg tersamarkan, serta aqidah rusak milik para penentang Al-quran dan Sunnah tersebut. Sesungguhnya berpegang dg tuntunan saya ini dan tuntunan inilah yg nantinya akan menetapkan kpd kaum Muslimin secara umum jika saya benar atau dusta. Sebagai penguat ucapan saya , al-majmu'ah al'alami liahlilbait (Majelis Internasional utk Ahli Bait) , demi meredakan kemarahan kita terpaksa mengeluarkan suatu pernyataan yg didalamnya terdapat celaan terhadap tragedi tersebut tanpa memberikan pembelaan terhadap Ummulmukminin dg anggapan bahwa hialh(kilah) mereka, serta kedustaan mereka akan bisa menipu kita. Bahkan penjelasan mereka hanyalah bersifat umum , serta tdk menyebut nama Aisyah -radiyallahhu'anha- sama sekali. Apakah Anda tahu sebabnya..? Jawabannya adalah , agar mereka tidak terpaksa mengatakan -radiyallahhu'anha- kepada Beliau. Tenanglah wahai para pengurus Majelis Internasional utk Ahli Bait, kami telah tersadar atas izin Allah. Kalian mau mengucapkan -radiyallahhu'anha- terhadapnya atau kalian mengakui bahwa dia Ibunda Kaum Mukminin, dan baha dia berada di Sorga, atau saya nasehatkan kepada kalian semua untuk menulis itu satu ungkapan "untuk orang-orang yang tertipu saja ". Berikut komentar saya terhadap pernyataan kalian terseebut.
    Karena saya faham tentang cara2  licik syiah, maka terlebih dahulu saya akan menjelaskan bagaimana jawaban mereka.  Kemungkinan mereka akan menjawab bahwa,"kami mengingkari (memprotes) perayaan tersebut, dan kami tidak menerimanya, dan 'Aisyah menurut kami seorangb muslmah", Ini adalah topuan yang masyhur dari mereka. Mereka akan menggunakannya untuk menipu, dan itu adalah biasa. Karena di dalam ushul aqidah mereka disebutkan bahwa setiap org yg tidak beriman dengan kewalian Ali dan para Imam setelahnya  bukanlah orang mukmin.  Islam bukanlah syariat untuk selamat. Seluruh ulama Syi'ah telah sepakat , yang dulu dan yang sekarang, tidak ada khilaf di antara mereka, tentang aqidah imamah yang menyelisihi kaum muslimin, dan mereka mengkafirkan kaum muslimin karenanya. Syi'ah berkeyakinan bahwa keimanan tidak akan sempurna bagi seorang manusia hingga dia beriman dengan kewalian Ali -Radiyallahu'anhu- (langsung setelah Nabi wafat ). Jika dia tidak beriman, maka dia bukan orang mukmin, sekalipun dia beriman dengan rukun2 iman yang lainnya. Dan imamah ini, siapa yang tidak mengimaninya, menurut Syi'ah dia telah kafir kepada Allah ,dan sedikit dari mereka menjadikannya sebagai orang fasiq yang tidak beriman.
     Oleh karena itu, trmasuk perkara yang mustahil bila mereka berkeyakinan bahwa  Abu Bakar, Umar, Utsman, para Sahabat secara umum dan 'Aisyah -mudah-mudahan allah meridhoi mereka semua- serta kaum muslimin secara umum adalah beriman. Akan tetapi mereka hanya mengatakan sebagai orang muslim saja, karena penilaian mereka sebagai orang mukmin akan meruntuhkan imamah yang itu merupakan asas  agama mereka, dan apa yang  bertautan dengannya dari sifat ma'shum dan lainnya. Setiap oarang yang berbasa-basi dan berbaik sangka kepada mereka tidak mengetahui bahwa dirinya adalah kafir menurut mereka, dan berhak kekal selamanya di api neraka berdasarkan kitab induk mereka.
    Sesungguhnya saya katakan kepad asetiap orang muslim, bahwa kami, ketika mengkafirkan mereka yang merayakan perayaan tersebut, bukan hanya karena mereka mengkafirkan Ummahatulmukminin dan para sahabat saja, sksn tetapi karena ijma' (kesepakatan) ulama kaum muslimin yang menyatakan bahwa siapa yang menuduh dan mencaci Ummul mukminin 'Aisyah -Radhiayallahu'anha- maka dia kafir.
    Ibnu Katsir -rahmahullah- berkata dalam tafsir surat an-Nur (24): 'Para Ulama -rahimahumullah- telah sepakat bahwa siapa yng mencaci dan menuduhnya dengan tuduhan yang dituduhkan kepadanya, maka dia kafir , karen menentang al-Qur'an.' (tafsirul Qur'anul 'azhim) [2/276], beliau juga menyebutkan dalam al-Bidayah wan Nihayah (8/92)
    Al-Qdhi abu Ya'ala -rahimahullah- berkata, 'Siapa yang menuduh zina 'Aisyah -radhiyallahu'anha- dengan apa yang allah telah mensucikannya, maka dia telah kafir, tanpa ada khilaf (perselisihan),' (as-Sharimul Mashlul ) [566-567]
    Imam as-Subkiy -rahimahullah- berkata 'Adapun fitnah terhadap 'Aisyah -radhiyallahu'anha- wal'iyadzubillah  ,maka itu mewajibkan pembunuhan karena dua perkara; salah satunya adalah bahwa al-Quran telah bersaksi akan kebersihan dari tuduhannya tersebut,  maka  mendustakanya adalah kekufuran dan menfitnahnya termasuk kedustaan terhadapnya; yang kedua ,bahwa dia adalah istri Nabi -shollallahu'alaiwasallam- , dan menghina beliau adalah kekufuran .' (Fatawa as-Subkiy) [2/592]
    Imam Nawawi berkata dalam syarah shahih muslim [17/117-118] , 'Kebersihan 'Aisyah dari tuduhan zina, adalah sebuah kebersihan secara qoth'i dg nas al-Qur'an yang mulia, seandainya seseorang yang meragukannya wal'iyadzubillah ,maka dia menjadi kafir, lagi murtad berdasarkan ijma' kaum muslimin.'
    Ibnu Qudamah al-Maqdisy -rahimahullah- berkata dalam lum'atul i'tiqod (29) , ' Termasuk  sunnah adalah mengucapkan radhiayallahhu'anha kepada  Istri-Istri Rasulullah ,ummahatulmukminin( ibunda kaum Mukminin ) yang suci dan dibebaskan dari segala keburukan.  Yang  paling utama dari mereka adalah Khodijah binti Khuwailid, dan Aisyah as-siddiqoh binti as-Siddiq yang dibebaskan  oleh Allah 'azzawajalla di dalam kitabNya ,Istri Nabi di dunia dan di Akhirat. Maka barang siapa menuduhnya dengan apa-apa yang  Allah telah membebaskannya,  maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung.'
    As-Suyuti -rahimahullah- berkata dalam kitabnya  al-Iklil  fi ishtinbatit Tanzil (19) , ' Para ulama telah dengannya -ayat Ifk-  bahwa siapa yang menuduhnya , maka dia dibunuh karena kedustaannya terhadap nash al-Qur'an . Para ulama berkata;' Menuduh 'Aisyah adalah kekufuran , karena Allah telah bertasbih terhadap diriNya sendiri saat menyebutnya, seraya berfirman ; Maha Sucu Engkau, Ini adalah kebohongan yang nyata (subhanaka hadza buhtaanun 'azhim) .Dia bertasbih , mensucikan Dzat-Nya  saat menyebutkan apa yang orang - orang Musyrik mensifati-Nya dengan istri dan anak."
    Ini adalah ucapan orang-orang dahulu dari para Imam semuanya , di dalamnya terdapat penjelasan jelas bahwa umat ini telah sepakat bahea siapa yang mencaci Ummul MUkminin 'Aisyah -radhiyallahu'anha- , serta menuduhnya dengan apa yang dituduhkan oleh para penuduh maka sesungguhnya dia telah kafir , di mana dia mendustakan allah, terhadap berita berlepas dirinya 'Aisyah  dari tuduhan tersebut, berikut kesuciannya -rodhiyaAllahhu'anha- ,dan sebagai hukumannya adalah dibunuh karena murtad dari agama Islam.
    Bahkan para Imam kaum Muslimin telah mengungkapkan bahwa  hanya sekedar mencaci para sahabat saja telah kafir. Mereka berdalil dengan firman Allah 'azzawajalla yang artinya :
" Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang - orang yang bersama dengan dia adalah  keras terhadap orang-orang kafir , tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya, tanda-tanda nereka nampak tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam injil , yaitu seperti  tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah  dia dan tegak lurus di atas pokoknya;  tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah menjanjikan  kepada orang-orang yang beriman dan mengamalkan amal yang sholeh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar," (QS. Al-Fath (48):29)
    Imam Malik ,dari ayat ini mengambil ishtinbath hukum akan kekafiran orang  orang yang mencaci para sahabat , dikarenakan para sahabat menjengkelkan mereka, dan siapa dijengkelkan oleh para sahabat maka dia kafir. Imam Syafi'i dan lainnyapun mnyetujuinya. (As-Showa'oqul Muhriqoh) [317], Tafsir Ibnu Katsir [4/204]
    JIka Imam Malik ,dan IMam Syafi'i -rahimahumallah- ,serta selain mereka dari para Imam -semoga Allah merahmati mereka- , mengungkapkan bahwa hanya sekedar membenci para sahabat adalah kekufuran, maka bagaimana pula dengan mengkafirkan mereka melaknat, mencaci, serta menuduh dengan perbuatan keji ?!!

    Ya Allah, atas nama-Mulah urusan Yasir yang keji itu, dan orang-orang yang mengikuti jalannya. Lumpuhkan tubuhnya dan bisukan lisanya. Jadikanlah dia berharap mati ,dan tidak menemuinya.
Ya Allah, tampakkanlah kepada kami  keajaiban kekuasaan-Mu pada dirinya.Turunkanlah kepadanya hukuman dan balasan yang tidak akan tertolak dari kaum pendosa...
Ya Allah kuasakanlah atasnya tentara-tentara langit dan bumi.. Ya Allah jadikanlah dia sebagai satu tanda, dan pelajaran bagi orang-orang  yang mengambil pelajaran. Azablah dia ya Allah sebagai Azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa...
Ya Allah potonglah tubuh-tubuhnya sepotong demi sepotong, dan janganlah Engkau mematikannya hingga dia merasakan azab setiap anggota tubuhnya...
Ya Allah, kami memohon kepadaMu untuk mengabulkan,
Ya Jabbar, Ya 'Azhim, Ya Qwiyyu, Ya ''Azizu, wahasbunallah, wani'mal wakil.

    Semoga selawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi MUhammad -shollallahu'alahiwasallam-, kepada seluruh keluarga beliau, terutama para Ummahatul mukminin, dan kepada seluruh para sahabat.


El-anshorie

Riya' zaman modern

Written By Unknown on Saturday, 12 April 2014 | Saturday, April 12, 2014


Teringat nasehat Syaikh Ibrahim ar-ruhaili beberapa waktu yang lalu,

"Saudaraku berhati-hati lah kalian dari riya' model baru, yang tidak pernah terjadi di zaman salaf dahulu. Yaitu seorang riya' dengan foto. Tatkala seorang melaksanakan umrah, berdoa atau sedang sholat kemudian difoto. Manakala bertemu dengan keluarga dan handai taulan ia berkata , "ini lho... foto saya waktu sholat di masjidil harom," ,"ini lho foto saya waktu thowaf.." ,"ini lho foto saya waktu berdoa..."

(Kemudian beliau melanjutkan)

"Alangkah ruginya , seorang melaksanakan umrah, datang dari negri yang jauh, dengan biayaya yg mahal, akan tetapi ia kembali ke rumahnya tanpa mendapat apa-apa disebabkan riya' yang ia lakukan. "

Saudaraku hati-hati pula dengan mengupload foto di fb . Jangan sampai pahala kita melayang sia-sia gara-gara foto yang kita upload di fb.

(Smg Allah mengkaruniakan kepada kita keikhlasan dalam setiap amal)


By:  El-.anshorie Achmad

Siapakah Teroris ???

Written By Unknown on Wednesday, 9 April 2014 | Wednesday, April 09, 2014



Oleh: Khandar Abu Ubaidillah Al– Laitsy
             

“Teroris” kata ini mungkin begitu menakutkan bagi kita, namun sebenarnya siapakah mereka?? Dan bagaimanakah mereka dalam pandangn kacamata islam?... Sebenarnya pemikiran atau idiologi teroris sudah ada sejak zaman para shahabat Rosulullah shollahu alaihi wassalam, dan Rosulullah pun telah memberikan kabar kepada para shahabatnya tentang kemunculanya mereka di akhir zaman ini, sebagaimana sabda Rosulullah shollahu alaihi wassalam  


”Nanti pada akhir zaman akan muncul kaum mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkongan, mereka memecah Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya, dan mereka akan terus bermunculan sehingga keluar yang terakhir daripada mereka bersama Dajjal, maka jika kamu berjumpa dengan mereka, maka perangilah sebab mereka itu seburuk-buruk makhluk dan seburuk-buruk khalifah. ” ( Sunan Nasai/4108, Sunan Ahmad/19783 ) 


Yang dimaksud mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak sampai kerongkongan adalah mereka membaca Al Qur’an namun mereka tidak mempelajari Al Qur’an dengan benar, dan mereka tidak mau belajar dengan para ulama, mereka menafsirkan Al Qur’an hanya dengan akal mereka semata, sehingga mereka tersesat dari jalan yang lurus yang telah di ajarkan Rosulullah kepada para shahabatnya. 


Di dalam kaca mata islam teroris disebut juga khowarij, dan mereka mempunyai ideology yang sangat berbahaya bagi umat ini. Bahkan ada diantara mereka yang sampai menghalalkan darah kaum muslimin, mereka mempebolehkan membunuh kaum mslimin bahkan mereka sampai mengkafirkan pemerintah kita. Sehingga mereka melakukan bemberontakan kepada pemerintah, dengan alasan mereka berjihad di jalan Allah subhanahu  wata’ala, demi Allah mereka telah berdusta atas nama Islam.

Mereka mudah dalam mengkafirkan kaum muslimin.

Dalam sebuah hadits di sebutkan bahwa khowarij atau biasa kita sebut dengan teroris mereka paling gemar menkafirkan kaum muslimin, 

 Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kamu adalah seseorang yang membaca Alquran, sehingga apabila telah diperlihatkan kepadanya keindahannya dan tadinya ia adalah pembela Islam, tiba-tiba ia lepas dari Islam dan melemparkan (Alquran) ke belakangnya, dan mendatangi tetangganya dengan membawa pedang dan menuduhnya dengan kesyirikan.” Aku berkata (periwayat hadis ed.), “Wahai Nabi Allah, siapakah yang lebih layak kepada kesyirikan, yang dituduh atau yang menuduh?” Beliau menjawab, “Yang menuduh (lebih layak).” (HR. Al Bazzar) dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Silsilah Shahihah no 3201. 


Ciri ini sangat nampak sekali pada teroris di zaman sekarang, mereka mudah sekali mengkafrikan kaum muslimin, bahkan mereka secara terang terangan memancangka permusuhan dan peperang kepada pemerintah.

Mereka keluar dari ketaaatan kepada pemerintah kaum muslimin

Mereka adalah para pemberontak Pemerintah yang sah di negeri ini, bahkan pemerintah mereka jadikan musuh bebuyutan mereka. padahal perbuatan tersebut telah Rosulullah larang meskipun


pemerintah kita tidak berhukum dengan Al Qur’an dan sunnah sebagaimana hadits berikut; Dari Hudzaifah bin Yaman berkata : Rasulullah Shollahu alaihi wasallam bersabda: “Akan ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul (pula) ditengah-tengah kalian orang-orang (dikalangan penguasa) yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia. Aku (Hudzaifah) bertanya : Apa yang harus saya perbuat jika aku mendapatinya? Beliau bersabda : (Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu. (Hadits shahih riwayat Muslim dalam Shahihnya no. 1847 (52). 

Hadits diatas adalah dalil wajibnya bagi kita untuk taat kepada pemerintah meskipun mereka tidak mengambil hukum dari Al Qur’an dan sunnah Rosulullah shollallahu alaihi wassalam, Imam Al Barbahari berkata : “Setiap orang yang memberontak kepada imam (pemerintah) kaum Muslimin adalah Khawarij. Dan berarti dia telah memecah kesatuan kaum Muslimin dan menentang sunnah. Dan matinya seperti mati jahiliyah.” (Syarhus Sunnah karya Imam Al Barbahari, tahqiq Abu Yasir Khalid Ar Raddadi halaman 78).Al-lmam Asy-Syahrastani rahimahullah (w. 548 H) dalam kitabnya Al-Milal wan Nihal  (I/132) menegaskan:"Setiap orang yang memberontak kepada imam (penguasa) yang sah dan telah disepakati kaum muslimin maka dia disebut sebagai khawarij. Sama saja, apakah dia memberontak pada masa shahabat kepada Al-A'immah (Al-Khulafa') Ar-Rasyidm, atau setelah mereka pada masa tabi'in maupun (pemberontakan) terhadap para imam (penguasa) di setiap zaman." Oleh karna itu saya katakana para teroris mereka adalah para pendusta atas nama agama, dan ajaran mereka adalah ajaran yang sesat dan menyesatkat.

Teroris beranggapan bahwa orang yang duduk di kursi pemerintahan adalah orang yang kafir dan wajib diperangi dengan berdalilkan ayat sebagai berikut: 

barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka adalah orang yang kafir” (QS Al maidah). 


Namu hujjah atau dalil ini telah di bantah oleh Shahabat Rosulullah shollallahu alaihi wassalam yaitu ibnu Abbas rodhiyallahu anhu bahwa beliau berkata yang dimaksud dengan kafir di dalam ayat ini adalah kufrun duna kufrin yaitu kekafiran yang bukan kekafiran tau kafi kecil yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari islam. Bersambung .........



Sponsor

Popular Posts

free counters

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Nidaaul-haq - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger